DAFTAR ISI
Halaman
|
HALAMAN JUDUL ......................................................................................
HALAMAN NOTA DINAS ..........................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................
HALAMAN MOTTO .....................................................................................
HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................
HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................
A.
Latar
Belakang Masalah ............................................................
B.
Batasan
dan Rumusan Masalah .................................................
C.
Tujuan
dan Kegunaan ................................................................
D.
Tinjauan
Pustaka ........................................................................
E.
Landasan
Teori ..........................................................................
F.
Metode
Penelitian ......................................................................
G.
Sistematika
Pembahasan ............................................................
BAB II MUHAMMADIYAH DI
KABUPATEN BANTUL ....................
A.
Sosial
Keagamaan Masyarakat Bantul .......................................
B.
Muhammadiyah
Daerah Kabupaten Bantul sebagai Usaha Tajdid (Pembaruan) ....................................................................
C.
Pembinaan
Remaja .....................................................................
BAB III IKATAN REMAJA
MUHAMMADIYAH DAERAH KABUPATEN BANTUL ...............................................................
A.
Asal-Usul
Organisasi .................................................................
B.
Perkembangan
IRM ...................................................................
C.
Tujuan
dan Pedoman Aktivitas .................................................
BAB IV IKATAN REMAJA
MUHAMMADIYAH DAN MASYA-RAKAT BANTUL ..........................................................................
A.
Pemurnian
Agama di Kalangan Remaja ....................................
B.
Pengembangan
Dakwah IRM.....................................................
C.
Kepeloporan
IRM dalam Pembinaan Moral...............................
BAB V PENUTUP .......................................................................................
A.
Simpulan
....................................................................................
B.
Saran .........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1.
Arsip
Kegiatan IRM di Bidang Jurnalistik.
2.
Arsip
Pernyataan Sikap Pimpinan Daerah IRM
Bantul.
3.
Susunan
Kepengurusan Pimpinan Daerah IRM
Bantul.
4.
Daftar
Data IRM Kabupaten Bantul.
5.
Daftar
Informan dan Daftar Pertanyaan.
6.
Perijinan
dari Fakultas.
7.
Perijinan
dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
8.
Perijinan
dari Pemerintah Kabupaten Bantul.
9.
Fotocopy
Kuliah Kerja Nyata.
10.
Curriculum
Vitae
|
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
x
xiii
1
1
10
11
12
14
17
21
23
23
28
31
34
34
36
40
43
43
50
53
56
56
58
59
|
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Jumlah Dusun, Desa
dan Statusnya Serta Kecamatan Kabupaten Bantul Tahun 2001. 23
Tabel 2. Prosentase Penduduk
Menurut Agama Yang Dianut Per-Kecamatan Tahun 2001. 25
Tabel 3. Sarana Peribadatan
Masjid dan Mushola Per-Kecamatan Tahun 2001. 26
Tabel 4. Organisasi
Kemasyarakatan di Kabupaten Bantul. ............................... 27
Tabel 5. Kunjungan Pembinaan
dan Pengawasan PDM Bantul Pada Amal Usaha. 33
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah
Dalam perjalanan sejarah nasional,
keberadaan organisasi Muhammadiyah memiliki peranan penting. Berbagai aktivitas
dan amal usaha Muhammadiyah ditampilkan sebagai upaya menjawab dan
mengantisipasi kebutuhan umat Islam dan bangsa, baik melalui jalur pendidikan,
pelayanan dan peningkatan kesejahteraan sosial, penyediaan sarana ibadah, serta
berbagai aktivitas keagamaan lainnya.[1]
|
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan
pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 di Kampung
Kauman, Yogyakarta .[2] Dalam
rentang waktu 90 tahun, aktivitasnya sampai sekarang masih dapat dirasakan
hampir merata di seluruh daerah. Keberhasilan Muhammadiyah dalam membina umat,
tidak terlepas dari ketepatannya dalam menentukan arah dan prinsip yang
melandasi cita-cita perjuangannya, yaitu disamping meningkatkan kesejahteraan
kehidupan umat sekaligus melakukan pemurnian ajaran Islam dan pembaruan dalam
metode pemahaman yang dikenal dengan istilah
tajdid. Terdapat dua perbedaan dalam
memformulasikan konsepsi tajdid, yakni
tajdid untuk mengembalikan kepada
aslinya (pemurnian) dengan mengambil sumber hukum yang tegas (qath’i),
dan tajdid sebagai modernisasi,
ditujukan pada persoalan yang belum ada hukum yang tegas (dhani), seperti : metode, sistem, teknik,
strategi dan sebagainya.[3]
Umat Islam di era modernisasi saat
ini, dituntut lebih peduli dan terpanggil untuk meneruskan serta mengembangkan
cita-cita yang telah dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan. Perwujudannya dapat
dilihat semakin maraknya pembangunan amal usaha Muhammadiyah di bidang
pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak
hingga Perguruan Tinggi di daerah.[4]
Secara kuantitatif, Muhammadiyah
telah berhasil menampilkan diri sebagai organisasi Islam dan organisasi dakwah
yang paling berpengaruh sampai sekarang. Hanya saja secara kualitatif belum
menampakkan keberhasilannya dalam mewujudkan gagasan pembaruannya dan lebih
disibukkan oleh kegiatan rutinitas. Menurut pendapat M. Yunan Yusuf bahwa dalam
proses perkembangan cita-cita tajdid Muhammadiyah
lebih mengarah pada pemurnian ajaran Islam, sehingga terlihat isu sentral
pembaruannya berkisar pada pemberantasan takhayyul,
khurafat, syirk dalam bidang aqidah,
serta membersihkan bid’ah dalam
masalah ibadah.[5] Hal ini menimbulkan anggapan
bahwa ide dan gagasan Muhammadiyah yang dicetuskan belum dapat mencapai
sasarannya. Menurut Harun Nasution,
pembaruan tersebut tidak terbatas pada pemurnian dengan mengambil dasar
Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi pembaruan dalam menafsirkan Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Ditambahkan pula, bahwa pembaruan itu juga mengandung fikiran,
aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah pemahaman dan adat istiadat
institusi-institusi lama dan lain sebagainya agar disesuaikan dengan situasi
dan kondisi sekarang, juga dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern.[6]
Dengan lahirnya pergerakan
Muhammadiyah dalam sejarah Indonesia
terbuka bagi perkembangan di berbagai bidang, baik sosial kemasyarakatan maupun
bidang keagamaan.[7] Usaha tajdid yang dilakukan Muhammadiyah membawa perubahan dalam
kehidupan keberagamaan dengan tujuan memurnikan umat Islam dengan sumber
aslinya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.[8] Usaha
tersebut berfungsi untuk membebaskan umat Islam dari belenggu kekolotan,
kesyirikan yang bertalian dengan pemujaan pada pohon-pohon, batu-batu, dan
benda-benda keramat, yang oleh sebagian masyarakat hal itu masih
dipercayai . [9]
Ikatan Remaja Muhammadiyah
(selanjutnya disingkat IRM) yang dibahas dalam studi ini merupakan salah satu
organisasi otonom[10]
Muhammadiyah. Dahulu organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)
yang didirikan di Surakarta
pada tanggal 18 Juli 1961. Pada masa inilah para pelajar Muhammadiyah
beraktivitas sampai dengan perubahan segmentasi garapan dari pelajar menjadi
remaja.[11]
IRM merupakan organisasi dakwah
Islam, amar ma’ruf nahi munkar[12] di kalangan
remaja dengan mengambil aqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Pada hakikatnya, IRM memiliki arah pengembangan untuk mencapai
sumber daya manusia yang optimal dalam kehidupan sosial keagamaan. Keberadaan
IRM menjadi sangat penting, karena peranan pentingnya dalam kehidupan
masyarakat mampu menambah wawasan keilmuan dan meningkatkan kreativitas remaja
baik di bidang keagamaan maupun bidang sosial kemasyarakatan.
Sejak tahun 1992 sampai 2002, IRM
sebagai organisasi sosial keagamaan mengalami perkembangan yang signifikan.
Perkembangan ini didukung oleh struktur kepemimpinan yang terbagi menjadi
kepemimpinan vertikal dan horizontal. Struktur vertikal terdiri dari Pimpinan
Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan
Ranting. Adapun IRM di Bantul merupakan organisasi yang berada pada pimpinan
tingkat daerah, sedangkan struktur kepemimpinan horizontal terdiri dari Ketua
Umum, Ketua Bidang atau Lembaga, Sekretariat Umum dan Bendahara Umum, serta
Anggota[13].
Aktivitas IRM merupakan media
pendukung usaha dakwah Islam Muhammadiyah, dan mengembangkan amal usaha
Muhammadiyah agar dapat mencapai tujuan yang dimaksud.[14] Bentuk
aktivitas IRM merupakan wujud dari pemahaman isi dan kandungan Al-Qur’an dan
As-Sunnah, meliputi : bidang sosial kemasyarakatan dan bidang keagamaan,
misalnya, bentuk pengajian umum, pengajian akbar, pelatihan-pelatihan kader,
bazar, bakti sosial, dan lain sebagainya.[15] Dalam
aktivitas organisasi IRM bertujuan untuk menumbuhkan kader-kader muda
Muhammadiyah di berbagai tingkat struktural. Secara khusus IRM menyampaikan
ajaran kebaikan dengan benar. Dalam pencapaiannya tidak terlepas dari peran
mahasiswa, santri dan pelajar sebagai sumber daya manusia yang menunjang
keberhasilan pelaksanaan program kerjanya. Peranan mereka menyelenggarakan
kegiatan di kota
memberi tambahan pengalaman dalam memacu kreatifitas berorganisasi mereka di
tingkat daerah.[16] Kegiatan pendukung yang
diselenggarakan oleh IRM Daerah Bantul
ialah mengundang mubaligh dari kota
untuk mengisi pengajian. Dari kegiatan itu pertumbuhan IRM mulai meluas ke
wilayah Bantul.[17]
Keberadaan IRM Daerah Bantul
merupakan perkembangan organisasi sebelumnya yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah
(selanjutnya ditulis IPM). Di Bantul aktivitas IPM diawali dengan berdirinya
group-group kelompok belajar (sekarang ranting) di Sanden, Srandakan dan Sewon
pada tahun 1964-1965.[18] Setahun
kemudian terbentuk IPM Bantul Selatan. Pada tahun 1966 pertumbuhan group-group
kelompok belajar di beberapa tempat seperti kelompok belajar Trirenggo, Bantul
Kota, Pandak, Imogiri, Kretek, Bambanglipuro dan Kasihan serta IPM Bantul
Selatan, merupakan embrio bagi pembentukan pimpinan daerah IPM Bantul.[19]
[1] Umar Hasyim, Muhammadiyah
Jalan Lurus dan Tajdid, Dakwah Kaderisasi dan Pendidikan Kritik dan Terapinya, (Surabaya : Bina Ilmu, 1990),
hlm., v-vi
[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, (Yogyakarta : Persatuan, 1983), hlm., 7, dikutip dari Yudia
Wahyudi, Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul (Kajian Terhadap Dinamika Amal
Usahanya) 1965 – 1999, (Skripsi
Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2001), hlm., 1
[3] Dikutip dari Syakirman M. Noer, Pemikiran
Pembaruan Muhammadiyah Formulasi Konsep Tajdid dan Implementasinya pada
Kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Tesis S2 Fakultas Tarbiyah IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994), hlm., 1.
[4] Umar Hasyim, Muhammadiyah
Jalan Lurus, hlm., 6.
[5] M. Yunan Yusuf, Cita dan
Citra Muhammadiyah, (Jakarta : Panjimas, 1985), hlm., 4.
[6] Ibid., hlm., 17. Lihat juga Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta :
Bulan Bintang, 1975), hlm., 11
[7] Deliar Noer, Gerakan Moderen
Islam di Indonesia 1900 – 1942, Cet. IV, (Jakarta : Pustaka LP3ES, 1988),
hlm., 87
[8] PP. Muhammadiyah, Anggaran
Dasar, hlm., 7
[9] Arif Ashari dan Mimien Maimunah Z., Muhammad Abduh dan Pengaruhnya di Indonesia, Cet. 1, (Surabaya :
Al-Ikhlas, 1996), hlm., 91
[10] Yang dimaksud dengan Organisasi Otonom ialah “badan yaang dibentuk
persyarikatan yang dengan bimbingan dan pengawasannya diberi hak dan kewajiban
untuk mengatur rumah tangganya sendiri, membina warga persyarikatan tertentu
dalam bidang-bidang kegiatan tertentu dalam rangka mencapai maksud IRM
Muhammadiyah”. Dituangkan dalam Keputusan PP. Muhammadiyah No. 1/PP/1982
tentang Qo’idah Organisasi Otonom. Dikutip dari Pimpinan Wilayah IPM. DIY, Buku Pedoman Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
(Yogyakarta : PW. IPM. DIY., 1984), hlm., 31
[11] Pimpinan Pusat IRM, Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IRM, hasil
Tanfidz Keputusan Muktamar XII Jakarta 8-11 Juli 2000, hlm.,23.
[12] Gerakan amar ma’ruf nahi
munkar merupakan usaha IRM untuk
megajak umat Islam memeluk Islam dan memahami ajaran dengan benar dan
meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat. Dalam Ensklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta : Logos,
1996), hlm., 100, diartikan perintah untuk berbuat kebaikan daripada berbuat
keburukan.
[13] Wawancara dengan Arif Widayanto (21) PD IRM 2000-2002, Pada tanggal
9 Maret 2002 di Sanden, Bantul
[14] PDM Kabupaten Bantul, Peran
Serta Muhammadiyah Kabupaten Bantul, (Bantul
: PDM, 1989), hlm., 14. Lihat skripsi Yudia W, Muhammadiyah, hlm., 43.
[15] Wawancara dengan Ninik Susilowati (22) PD IRM 1998-2000, pada
tanggal 23 Februari 2002, di Badegan, Bantul.
[16] Wawancara dengan Arif Widayanto (21), pada tanggal yang sama.
[17] Wawancara dengan Bapak Arba Riksawan Qomaru (33) PD IPM 1991-1993,
pada tanggal 18 Maret 2002 di Sanden, Bantul.
[18] Wawancara dengan Bapak Basyir Dahlan (56), pada tanggal 13 Maret
2001, di Pepe, Trirenggo, Bantul.
[19] Wawancara dengan Bapak
Sujarwanto (51), pada tanggal 1 Maret 2002 di Perumahan Karangjati Indah
1, Kasihan, Bantul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar