Sabtu, 07 Februari 2015

AKTIVITAS IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM)


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ......................................................................................
HALAMAN NOTA DINAS ..........................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................
HALAMAN MOTTO .....................................................................................
HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................
HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
BAB I     PENDAHULUAN ..........................................................................
A.    Latar Belakang Masalah ............................................................
B.     Batasan dan Rumusan Masalah .................................................
C.     Tujuan dan Kegunaan ................................................................
D.    Tinjauan Pustaka ........................................................................
E.     Landasan Teori ..........................................................................
F.      Metode Penelitian ......................................................................
G.    Sistematika Pembahasan ............................................................
BAB II   MUHAMMADIYAH DI KABUPATEN BANTUL ....................
A.    Sosial Keagamaan Masyarakat Bantul .......................................

B.     Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul sebagai Usaha Tajdid (Pembaruan) ....................................................................
C.     Pembinaan Remaja .....................................................................
BAB III  IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH DAERAH KABUPATEN BANTUL ...............................................................
A.    Asal-Usul Organisasi .................................................................
B.     Perkembangan IRM ...................................................................
C.     Tujuan dan Pedoman Aktivitas .................................................
BAB IV  IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH DAN MASYA-RAKAT BANTUL ..........................................................................
A.    Pemurnian Agama di Kalangan Remaja ....................................
B.     Pengembangan Dakwah IRM.....................................................
C.     Kepeloporan IRM dalam Pembinaan Moral...............................
BAB V   PENUTUP .......................................................................................
A.    Simpulan ....................................................................................
B.     Saran  .........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1.       Arsip Kegiatan IRM di Bidang Jurnalistik.
2.       Arsip Pernyataan Sikap Pimpinan Daerah  IRM Bantul.
3.       Susunan Kepengurusan Pimpinan Daerah  IRM Bantul.
4.       Daftar Data  IRM Kabupaten Bantul.
5.       Daftar Informan dan Daftar Pertanyaan.
6.       Perijinan dari Fakultas.
7.       Perijinan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
8.       Perijinan dari Pemerintah Kabupaten Bantul.
9.       Fotocopy Kuliah Kerja Nyata.
10.   Curriculum Vitae
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
x
xiii
1
1
10
11
12
14
17
21
23
23


28
31

34
34
36
40

43
43
50
53
56
56
58
59





DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.   Jumlah Dusun, Desa dan Statusnya Serta Kecamatan Kabupaten Bantul Tahun 2001.                 23
Tabel 2.   Prosentase Penduduk Menurut Agama Yang Dianut Per-Kecamatan Tahun 2001.    25
Tabel 3.   Sarana Peribadatan Masjid dan Mushola Per-Kecamatan Tahun 2001.      26
Tabel 4.   Organisasi Kemasyarakatan di Kabupaten Bantul. ............................... 27
Tabel 5.   Kunjungan Pembinaan dan Pengawasan PDM Bantul Pada Amal Usaha. 33


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam perjalanan sejarah nasional, keberadaan organisasi Muhammadiyah memiliki peranan penting. Berbagai aktivitas dan amal usaha Muhammadiyah ditampilkan sebagai upaya menjawab dan mengantisipasi kebutuhan umat Islam dan bangsa, baik melalui jalur pendidikan, pelayanan dan peningkatan kesejahteraan sosial, penyediaan sarana ibadah, serta berbagai aktivitas keagamaan lainnya.[1]
1
 
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 di Kampung Kauman, Yogyakarta.[2] Dalam rentang waktu 90 tahun, aktivitasnya sampai sekarang masih dapat dirasakan hampir merata di seluruh daerah. Keberhasilan Muhammadiyah dalam membina umat, tidak terlepas dari ketepatannya dalam menentukan arah dan prinsip yang melandasi cita-cita perjuangannya, yaitu disamping meningkatkan kesejahteraan kehidupan umat sekaligus melakukan pemurnian ajaran Islam dan pembaruan dalam metode pemahaman yang dikenal dengan istilah tajdid. Terdapat dua perbedaan dalam memformulasikan konsepsi tajdid, yakni tajdid untuk mengembalikan kepada aslinya (pemurnian) dengan mengambil sumber hukum yang tegas (qath’i), dan tajdid sebagai modernisasi, ditujukan pada persoalan yang belum ada hukum yang tegas (dhani), seperti : metode, sistem, teknik, strategi dan sebagainya.[3]
Umat Islam di era modernisasi saat ini, dituntut lebih peduli dan terpanggil untuk meneruskan serta mengembangkan cita-cita yang telah dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan. Perwujudannya dapat dilihat semakin maraknya pembangunan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi di daerah.[4]
Secara kuantitatif, Muhammadiyah telah berhasil menampilkan diri sebagai organisasi Islam dan organisasi dakwah yang paling berpengaruh sampai sekarang. Hanya saja secara kualitatif belum menampakkan keberhasilannya dalam mewujudkan gagasan pembaruannya dan lebih disibukkan oleh kegiatan rutinitas. Menurut pendapat M. Yunan Yusuf bahwa dalam proses perkembangan cita-cita tajdid Muhammadiyah lebih mengarah pada pemurnian ajaran Islam, sehingga terlihat isu sentral pembaruannya berkisar pada pemberantasan takhayyul, khurafat, syirk dalam bidang aqidah, serta membersihkan bid’ah dalam masalah ibadah.[5] Hal ini menimbulkan anggapan bahwa ide dan gagasan Muhammadiyah yang dicetuskan belum dapat mencapai sasarannya.  Menurut Harun Nasution, pembaruan tersebut tidak terbatas pada pemurnian dengan mengambil dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi pembaruan dalam menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ditambahkan pula, bahwa pembaruan itu juga mengandung fikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah pemahaman dan adat istiadat institusi-institusi lama dan lain sebagainya agar disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang, juga dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[6]
Dengan lahirnya pergerakan Muhammadiyah dalam sejarah Indonesia terbuka bagi perkembangan di berbagai bidang, baik sosial kemasyarakatan maupun bidang keagamaan.[7] Usaha tajdid yang dilakukan Muhammadiyah membawa perubahan dalam kehidupan keberagamaan dengan tujuan memurnikan umat Islam dengan sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.[8] Usaha tersebut berfungsi untuk membebaskan umat Islam dari belenggu kekolotan, kesyirikan yang bertalian dengan pemujaan pada pohon-pohon, batu-batu, dan benda-benda keramat, yang oleh sebagian masyarakat hal itu  masih  dipercayai . [9]
Ikatan Remaja Muhammadiyah (selanjutnya disingkat IRM) yang dibahas dalam studi ini merupakan salah satu organisasi otonom[10] Muhammadiyah. Dahulu organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang didirikan di Surakarta pada tanggal 18 Juli 1961. Pada masa inilah para pelajar Muhammadiyah beraktivitas sampai dengan perubahan segmentasi garapan dari pelajar menjadi remaja.[11]
IRM merupakan organisasi dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar[12] di kalangan remaja dengan mengambil aqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada hakikatnya, IRM memiliki arah pengembangan untuk mencapai sumber daya manusia yang optimal dalam kehidupan sosial keagamaan. Keberadaan IRM menjadi sangat penting, karena peranan pentingnya dalam kehidupan masyarakat mampu menambah wawasan keilmuan dan meningkatkan kreativitas remaja baik di bidang keagamaan maupun bidang sosial kemasyarakatan.
Sejak tahun 1992 sampai 2002, IRM sebagai organisasi sosial keagamaan mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan ini didukung oleh struktur kepemimpinan yang terbagi menjadi kepemimpinan vertikal dan horizontal. Struktur vertikal terdiri dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Ranting. Adapun IRM di Bantul merupakan organisasi yang berada pada pimpinan tingkat daerah, sedangkan struktur kepemimpinan horizontal terdiri dari Ketua Umum, Ketua Bidang atau Lembaga, Sekretariat Umum dan Bendahara Umum, serta Anggota[13].
Aktivitas IRM merupakan media pendukung usaha dakwah Islam Muhammadiyah, dan mengembangkan amal usaha Muhammadiyah agar dapat mencapai tujuan yang dimaksud.[14] Bentuk aktivitas IRM merupakan wujud dari pemahaman isi dan kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meliputi : bidang sosial kemasyarakatan dan bidang keagamaan, misalnya, bentuk pengajian umum, pengajian akbar, pelatihan-pelatihan kader, bazar, bakti sosial, dan lain sebagainya.[15] Dalam aktivitas organisasi IRM bertujuan untuk menumbuhkan kader-kader muda Muhammadiyah di berbagai tingkat struktural. Secara khusus IRM menyampaikan ajaran kebaikan dengan benar. Dalam pencapaiannya tidak terlepas dari peran mahasiswa, santri dan pelajar sebagai sumber daya manusia yang menunjang keberhasilan pelaksanaan program kerjanya. Peranan mereka menyelenggarakan kegiatan di kota memberi tambahan pengalaman dalam memacu kreatifitas berorganisasi mereka di tingkat daerah.[16] Kegiatan pendukung yang diselenggarakan oleh IRM  Daerah Bantul ialah mengundang mubaligh dari kota untuk mengisi pengajian. Dari kegiatan itu pertumbuhan IRM mulai meluas ke wilayah Bantul.[17]
Keberadaan IRM Daerah Bantul merupakan perkembangan organisasi sebelumnya yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (selanjutnya ditulis IPM). Di Bantul aktivitas IPM diawali dengan berdirinya group-group kelompok belajar (sekarang ranting) di Sanden, Srandakan dan Sewon pada tahun 1964-1965.[18] Setahun kemudian terbentuk IPM Bantul Selatan. Pada tahun 1966 pertumbuhan group-group kelompok belajar di beberapa tempat seperti kelompok belajar Trirenggo, Bantul Kota, Pandak, Imogiri, Kretek, Bambanglipuro dan Kasihan serta IPM Bantul Selatan, merupakan embrio bagi pembentukan pimpinan daerah IPM Bantul.[19]



[1] Umar Hasyim, Muhammadiyah Jalan Lurus dan Tajdid, Dakwah Kaderisasi dan Pendidikan Kritik dan Terapinya, (Surabaya : Bina Ilmu, 1990), hlm., v-vi
[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, (Yogyakarta : Persatuan, 1983), hlm., 7, dikutip dari Yudia Wahyudi,  Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul (Kajian Terhadap Dinamika Amal Usahanya) 1965 – 1999, (Skripsi Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2001), hlm., 1
[3] Dikutip dari Syakirman M. Noer, Pemikiran Pembaruan Muhammadiyah Formulasi Konsep Tajdid dan Implementasinya pada Kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Tesis S2 Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994), hlm., 1.
[4] Umar Hasyim, Muhammadiyah Jalan Lurus, hlm., 6.
[5] M. Yunan Yusuf, Cita dan Citra Muhammadiyah, (Jakarta : Panjimas, 1985), hlm., 4.
[6] Ibid., hlm., 17. Lihat juga Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm., 11
[7] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900 – 1942, Cet. IV, (Jakarta : Pustaka LP3ES, 1988), hlm., 87
[8] PP. Muhammadiyah, Anggaran Dasar, hlm., 7
[9] Arif Ashari dan Mimien Maimunah Z., Muhammad Abduh dan Pengaruhnya di Indonesia, Cet. 1, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1996), hlm., 91
[10] Yang dimaksud dengan Organisasi Otonom ialah “badan yaang dibentuk persyarikatan yang dengan bimbingan dan pengawasannya diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangganya sendiri, membina warga persyarikatan tertentu dalam bidang-bidang kegiatan tertentu dalam rangka mencapai maksud IRM Muhammadiyah”. Dituangkan dalam Keputusan PP. Muhammadiyah No. 1/PP/1982 tentang Qo’idah Organisasi Otonom. Dikutip dari Pimpinan Wilayah IPM. DIY, Buku Pedoman Ikatan Pelajar Muhammadiyah. (Yogyakarta : PW. IPM. DIY., 1984), hlm., 31
[11] Pimpinan Pusat IRM, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IRM, hasil Tanfidz Keputusan Muktamar XII Jakarta 8-11 Juli 2000, hlm.,23.
[12] Gerakan amar ma’ruf nahi munkar merupakan usaha IRM untuk megajak umat Islam memeluk Islam dan memahami ajaran dengan benar dan meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat. Dalam Ensklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta : Logos, 1996), hlm., 100, diartikan perintah untuk berbuat kebaikan daripada berbuat keburukan.
[13] Wawancara dengan Arif Widayanto (21) PD IRM 2000-2002, Pada tanggal 9 Maret 2002 di Sanden, Bantul
[14] PDM Kabupaten Bantul, Peran Serta Muhammadiyah Kabupaten Bantul, (Bantul : PDM, 1989), hlm., 14. Lihat skripsi Yudia W, Muhammadiyah, hlm., 43.
[15] Wawancara dengan Ninik Susilowati (22) PD IRM 1998-2000, pada tanggal 23 Februari 2002, di Badegan, Bantul.
[16] Wawancara dengan Arif Widayanto (21), pada tanggal yang sama.
[17] Wawancara dengan Bapak Arba Riksawan Qomaru (33) PD IPM 1991-1993, pada tanggal 18 Maret 2002 di Sanden, Bantul.
[18] Wawancara dengan Bapak Basyir Dahlan (56), pada tanggal 13 Maret 2001, di Pepe, Trirenggo, Bantul.
[19] Wawancara dengan Bapak  Sujarwanto (51), pada tanggal 1 Maret 2002 di Perumahan Karangjati Indah 1, Kasihan,  Bantul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar